Menu

TEMPO.COJakarta -  Menjadi seorang penyandang disabilitas Sindrom Asperger (Neirodivergence) tidak menghalangi Juliana Cen, Senior Partner Development Manager di Microsoft Indonesia untuk mengembangkan kariernya sekaligus mengkampanyekan penyediaan aksesibilitas bagi difabel di tempat kerja. Ibu dua anak kembar yang juga penyandang autisme ini mengatakan bahwa penciptaan teknologi dapat memberdayakan sekaligus memberikan peluang bagi individu dengan kemampuan berbeda.

"Hidup kita sangat terkait erat dengan teknologi yang berkembang secara pesat. Jadi, jika kita ingin memastikan tidak ada siapapun yang tertinggal, kita harus mampu memenuhi berbagai kebutuhan agar dapat menciptakan lingkungan dengan berbagai kemampuan orang bisa diterima dengan baik," kata Juliana Cen dalam acara Pekan Kreatif Gelaran PBB dan Bumilangit, Dorong Teknologi Inklusif bagi Penyandang Disabilitas di Bloc Bar 2 (exfoya) MBloc Jakarta, 6-10 Desember 2023.  

Juliana Cen Memiliki 2 Anak Kembar dengan Gangguan Spektrum Autisme

Juliana pertama kali mengenal dunia neurodivergence ketika putra kembarnya - yang saat itu masih balita - didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme (ASD). Berhadapan dengan tantangan sebagai seorang ibu dari dua anak dengan disabilitas, Juliana awalnya ragu untuk membagikan kisahnya. Namun, ia kemudian mendapatkan dukungan dari Employee Resource Group Microsoft, tempat berkumpylnya karyawan neurodivergent Microsoft untuk berbagi cerita, dan saling memberikan rekomendasi.

Seiring berjalannya waktu, Juliana mulai menyadari bahwa gejala-gejala yang menuntun diagnosis kedua putranya juga dialaminya pada masa kecil. "Saya juga memiliki gejala tersebut ketika kecil. Semakin dalam saya mempelajari tentang autisme, saya menemukan beberapa karakteristik dan pola pikir terkait dengan itu [autisme] yang sangat mirip dengan apa yang saya alami sendiri," katanya.

Lakukan Tes Online hingga Diagnosis Asperger

Melihat kemiripan karakteristik itu, Juliana melakukan beberapa tes online, dan hasilnya selalu sama – borderline personality; atau dengan kata lain, ambang batas antara neurodivergent dan neurotypical, dengan kecenderungan menuju neurodivergent. Tes-tes tersebut mengarahkannya untuk berkonsultasi dengan psikolog terdekat. "Jadi, saya pergi berkonsultasi dengan ahli. Saat itulah saya didiagnosis secara klinis dengan Asperger," kenang Juliana.

Sindrom Asperger adalah gangguan perkembangan yang tergolong dalam gangguan spektrum autisme. Individu dengan sindrom Asperger mengalami gangguan kemampuan berkomunikasi dan interaksi sosial, tetapi masih memiliki kecerdasan dan kemampuan berbahasa yang baik. Sindrom Asperger sedikit berbeda dengan gangguan spektrum autisme lainnya.

Pada autisme, penyandangnya memiliki kecerdasan dan penguasaan bahasa yang tidak begitu baik. Sedangkan pada sindrom Asperger, penyandangnya cerdas dan mahir dalam bahasa, tetapi tampak canggung saat berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang di sekitarnya.

Diagnosis tersebut membantu Juliana memahami mengapa dia kerap berpikir dan berperilaku berbeda dari kebanyakan orang. Pada awalnya Juliana ragu memberitahu kantornya. Ia khawatir tidak diterima di lingkungannya. "Apakah orang hanya akan melihat saya sebagai seseorang dengan asperger,” kata Juliana.

Bergabung di Komunitas Penyandang Neurodivergence Microsoft

Melalui komunitas penyandang neurodivergence yang dimiliki Microsoft, Juliana belajar mengubah cara pendangnya. Juliana mempelajari bahwa ada orang lain yang didiagnosis sebagai neurodivergent di masa dewasa juga mereka menggunakan berbagai platform guna meningkatkan kesadaran dan penerimaan terhadap autisme. Perspektif ini memberi Juliana keberanian mengumumkan kondisi dirinya kepada keluarga dan teman terdekat, dan akhirnya kepada rekan kerja serta masyarakat luas.

"Alhasil, pada Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2023, saya mengungkapkan kondisi saya melalui sebuah video – yang awalnya hanya ditujukan untuk rekan-rekan kerja Microsoft secara internal – tetapi kemudian saya publikasikan di media sosial saya dengan harapan meningkatkan kesadaran dan penerimaan terhadap autisme," ujar Juliana.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Juliana Cen punya cerita sendiri tentang para penyandang disabilitas. Awalnya, dia mengaku pertama kali mengenal dunia neurodivergence ketika putra kembarnya yang saat itu masih balita didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme (ASD). 

Neurodivergent adalah sebutan untuk seseorang yang memiliki cara kerja otak yang berbeda dibandingkan mereka yang dianggap standar atau tipikal.

Berhadapan dengan tantangan sebagai seorang ibu dari dua anak dengan disabilitas, Juliana awalnya ragu untuk membagikan kisahnya. Namun, ia kemudian mendapatkan dukungan dari Employee Resource Group Microsoft, di mana semua karyawan neurodivergent Microsoft berkumpul, berbagi cerita, dan saling memberikan rekomendasi.

Seiring berjalannya waktu, Juliana mulai menyadari bahwa gejala-gejala yang menuntun diagnosis kedua putranya juga dialami Juliana pada masa kecilnya sendiri. "Ibu saya mengira gejala yang kami lihat pada anak-anak saya adalah hal biasa karena saya juga memiliki gejala tersebut ketika kecil. Semakin dalam saya mempelajari tentang autisme, saya menemukan beberapa karakteristik dan pola pikir terkait dengan itu [autisme] yang sangat mirip dengan apa yang saya alami sendiri. Jadi, saya melakukan beberapa tes online, dan hasilnya selalu sama – borderline personality; atau dengan kata lain, ambang batas antara neurodivergent dan neurotypical, dengan kecenderungan menuju neurodivergent. Tes-tes tersebut menyarankan saya untuk berkonsultasi dengan psikolog terdekat. Jadi, saya pergi berkonsultasi dengan ahli. Saat itulah saya didiagnosis secara klinis dengan Asperger," kenang Juliana yang dikutip dari siaran pers, Senin (11/12/2023).

Diagnosis ini pun menjadi titik terang sehingga membantu Juliana memahami mengapa dia kerap berpikir dan berperilaku berbeda dari kebanyakan orang. "Namun, diagnosis itu juga mengundang pertanyaan; perlukah saya memberitahu ini kepada rekan-rekan kerja seperti ketika saya menceritakan tentang anak-anak saya? Saya takut akan pikiran orang tentang saya. Saya takut tidak diterima. Dan setelah berita ini sampai ke publik, saya bertanya-tanya apakah orang hanya akan melihat saya sebagai seseorang dengan Asperger,” kata Juliana.

“Melalui komunitas yang sama di Microsoft, saya belajar bahwa ada orang lain yang didiagnosis sebagai neurodivergent di masa dewasa juga, dan mereka menggunakan semua platform yang ada untuk meningkatkan kesadaran dan penerimaan terhadap autisme. Itu memberi saya keberanian untuk secara terbuka mengumumkan kondisi saya kepada keluarga dan teman-teman, dan akhirnya kepada rekan-rekan kerja serta masyarakat luas. Alhasil, pada Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2023, saya mengungkapkan kondisi saya melalui sebuah video – yang awalnya hanya ditujukan untuk rekan-rekan kerja Microsoft secara internal – tetapi kemudian saya publikasikan di media sosial saya dengan harapan meningkatkan kesadaran dan penerimaan terhadap autisme," tambah Juliana.

Individu neurodivergent adalah individu dengan perbedaan neurologis yang mempengaruhi pembelajaran, pikiran, dan perilaku individu-individu bersangkutan. Perbedaan ini menghasilkan kekuatan dan kemampuan unik - beberapamemiliki tingkat konsentrasi yang tinggi dan dapat menguasai sebuah subjek atau keterampilan yang kompleks, beberapa  memiliki karakter yang sangat tidak memihak dalam menilai lingkungan sekitarnya sehingga memperlakukan semua orang dengan adil dan hormat, beberapa memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang tertentu seperti matematika, ilmu pengetahuan, seni, atau bahasa, dan lain sebagainya. Individu-individu tersebut mungkin telah menyaksikan kemajuan teknologi, tetapi apakah mereka benar-benar mendapat manfaat dari teknologi?

Teknologi sering dianggap sebagai pembuka peluang baru. Dengan demikian, teknologi memiliki potensi untuk membantu individu neurodivergent dan penyandang disabilitas secara luas, mengasah keahlian khusus mereka, meningkatkan kemandirian mereka, dan mengakses peluang yangsebelumnya bisa jadi tidak dapat dijangkau. "Aksesibilitas mendorong inklusivitas dengan memanfaatkan inovasi digital dan memanfaatkan data yang berharga, memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih informatif dan berdampak positif pada kehidupan," ujar Faizal Thamrin, Data Innovation Lead, UN Global Pulse Asia Pacific.

Teknologi juga dapat memberdayakan penyandang disabilitas untuk berkontribusi pada masyarakat dan ekonomi, serta menunjukkan bakat dan keterampilan mereka. "Hidup kita sangat terkait erat dengan teknologi yang berkembang secara pesat. Jadi, jika kita ingin memastikan tidak ada siapapun yang tertinggal, kita harus mampu memenuhi berbagai kebutuhan agar dapat menciptakan lingkungan di mana orang dengan berbagai kemampuan bisa diterima dengan baik. Bayangkan betapa membingungkan dan menakutkannya untuk hidup di dunia yang dirancang tanpa memikirkan kita," tambah Juliana.

Untuk mewujudkan lingkungan tersebut, menurut Juliana, teknologi harus bersifat inklusif, dan pandangan ini juga dimiliki oleh Microsoft. Microsoft berkomitmen untuk memajukan teknologi yang didorong oleh prinsip etika sekaligus menempatkan manusia di kursi terdepan, dan ini juga tercermin dalam terobosan AI seperti Microsoft Copilot. 

Maka, bertepatan dengan momentum Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada 3 Desember setiap tahunnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia bersama dengan Bumilangit mengadakan Pekan Kreatif untuk Penyandang Disabilitas pada 6-10 Desember 2023 di Bloc Bar 2 MBloc Jakarta – sebuah acara yang turut didukung Microsoft. Dengan moto “Kita bisa! Kita mampu! Kita sama!”, acara ini menyoroti bakat dan cerita luar biasa penyandang disabilitas melalui pameran seni, talkshow, dan lokakarya. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA– Acara Walk For Autism (WFA) 2023 sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Indonesia digelar pada 13 - 14 Mei 2023.

Kegiatan utama WFA  adalah jalan sehat atau fun walk dengan start dari kampus LSPR Building di Sudirman Park Jakiarta dan finish di tempat sama, yang juga dimeriahkan dengan kegiaran bazaar.

Acara yang mendapat dukungan dari PT Panasonic Gobel Indonesia (PGI) ini manargetkan peserta sebanyak 1000 orang.

Pada rangkaian kegiatan WFA 2023, PGI berpartisipasi dengan membuka booth yang diisi beragam aktivitas menarik dan interaktif untuk meramaikan kegiatan WFA 2023.

WFA sendiri diselenggarakan LSPR Institute of Communication & Business berkolaborasi dengan berbagai organisasi seperti JCI Nusantara, JCI Jakarta, JCI East Java, Yayasan Indriya, LSPR, LSCAA, Prana Satya Learning Center, Kouji Genki Project, Perempuan Tangguh dan didukung oleh berbagai komunitas disabilitas lainnya.

Latar belakangan penyelenggaraan kegiatan ini adalah karena masih kurangnya dukungan terhadap ABK disebabkan minimnya pemahaman masyarakat.

ABK masih dianggap oleh masyarakat tidak bisa diajak bersosialisasi sehingga memilih untuk menjauhi mereka. Fakta ini yang kemudian menjadi alasan bagi PGI untuk berpartispasi di WFA.

Keisuke Nakagawa, President Director PT Panasonic Gobel Indonesia mengatakan, dalam menjalankan kegiatan bisnisnya, PGI tidak hanya berpusat pada inovasi produk tetapi ingin selalu menciptakan perubahan yang berdampak besar bagi seluruh masyarakat, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.

“Dengan pengalaman lebih dari 60 tahun di Indonesia, kami ingin selalu memberikan dampak positif, seperti mengedukasi masyarakat untuk semakin sadar mengenai pentingnya isu sosial terhadap ABK. Selain itu, hal ini juga merupakan bagian dari upaya kami dalam memberikan kebahagiaan untuk dirasakan masyarakat setiap harinya,” ujar Keisuke Nakagawa.

Juliana Cen, Head of Walk For Autism Campaign mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi dukungan yang diberikan Panasonic Gobel Indonesia dalam penyelenggaraan WFA 2023.

"Kami mengajak semakin banyak pihak dan elemen masyarakat untuk bersatu karya, membangun masyarakat yang semakin peduli dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. Ini bukan tentang kita, dia, atau mereka sebagai individu, tetapi ini tentang kita sebagai kesatuan masyarakat. When there are no doors for us, let’s build our own doors," ujarnya.

“Melalui kegiatan ini diharapkan, kedepannya kita dapat terus bersinergi dan secara konsisten meningkatkan kesadaran juga kepedulian masyarakat umum terhadap tumbuh kembang Anak Berkebutuhan Khusus dengan cara memahami, menerima, dan memberikan tempat yang layak serta kesempatan yang sama kepada ABK," kata Juliana Cen. (*/)

KOMPAS.com - Autisme adalah gangguan perkembangan otak yang menyebabkan hambatan dalam kemampuan berkomunikasi, interaksi sosial, dan perilaku. Mereka yang memiliki autisme, di Indonesia khususnya, disebut penyandang autisme, salah satu dari Orang atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Autisme bisa terjadi sejak anak berusia sekitar tiga tahun. Jumlah penyandang autisme di dunia yang kian banyak sejalan dengan pertumbuhan penduduk, menjadi perhatian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Data Central for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan, prevalensi kejadian autisme meningkat.

Awalnya, pada 2000, penyandang autisme adalah 1 dari 150 populasi. Lantas, 14 tahun kemudian, jumlah penyandang autisme adalah 1 dari 59 populasi. Sebagai langkah nyata, PBB sejak 1989 sudah menetapkan 2 April sebagai Hari Autisme Sedunia. Tidak berhenti sampai di situ, PBB memasukkan pendidikan berkualitas, juga untuk penyandang autisme, sebagai satu dari 17 tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sejak 2015. Pendidikan berkualitas adalah tujuan nomor 4 dari 17 tujuan SDGs tersebut.

Walk for Autism

Sementara itu, pada diskusi di Jakarta, Jumat (12/5/2023), Wakil Ketua Perempuan Tangguh Indonesia Hemasari Dharmabumi mengungkapkan pentingnya pendidikan inklusif bagi penyandang autisme. Anak penyandang autisme, pada pendidikan inklusif akan bersekolah bersama dengan anak-anak yang bukan penyandang autisme di sekolah umum.

Selain pendidikan inklusif, diskusi itu juga memberikan catatan pentingnya orangtua anak penyandang autisme dan para pemangku kepentingan berperan untuk menemukan semangat berwirausaha bagi penyandang autisme sesuai dengan talenta masing-masing anak. "Jika semakin banyak khalayak umum mengetahui dan memahami seluk beluk autisme, kian tinggi pula penyandang autisme beroleh kesempatan untuk mendapatkan hak, kewajiban, serta pengembangan diri," tutur Hemasari.

"Jika semakin banyak khalayak umum mengetahui dan memahami seluk beluk autisme, kian tinggi pula penyandang autisme beroleh kesempatan untuk mendapatkan hak, kewajiban, serta pengembangan diri," tutur Hemasari.

Salah satu upaya untuk menanamkan pemahaman betapa pentingnya pendidikan inklusif bagi penyandang autisme, akan digelar kegiatan "Walk for Autism". Kegiatan ini mengajak masyarakat dan pemangku kepentingan untuk lebih melantangkan suara kepedulian bagi penyandang autisme, khususnya di Indonesia. Director of LSCAA & LSBA Chrisdina Wempi mengatakan, kegiatan ini akan berlangsung pada Minggu (14/5/2023) pagi di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. "Terbuka untuk umum," kata Chrisdina.

MASIH banyak isu sosial di tengah masyarakat yang mengesampingkan kepentingan hak anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) seperti bullying, pelecehan seksual, penolakan, kekerasan pada anak, diskriminasi sosial, limitasi akses pendidikan, dan kesempatan pekerjaan yang sama. Karena itu, Walk for Autism bakal digelar pada Minggu 14 Mei 2023. 

Ajang itu terlaksana berkat dukungan JCI Nusantara, JCI Jakarta, JCI East Java, Yayasan Indriya, LSPR Institute of Communication & Business (LSPR Institute), London School Centre for Autism Awareness (LSCAA), Prana Satya Learning Center, Kouji Genki Project, Perempuan Tangguh Indonesia, dan didukung oleh komunitas disabilitas lain. Rute jalan bermula dari Gedung Kampus LSPR Sudirman Park Area Sudirman dan kembali ke Gedung Kampus LSPR.

Kegiatan itu secara konsisten untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat umum terhadap tumbuh kembang ABK dengan cara memahami, menerima, dan memberikan tempat yang layak, serta kesempatan yang sama.

Pada Press Conference, turut mengundang beberapa perwakilan asosiasi dan komunitas, yaitu Ibu Juliana Cen selaku Project lead Walk for Autism Campaign dan Partner Development Team Lead Microsoft Indonesia, Ibu Dina selaku Director of LSCAA & LSBA, dan Dr. Hemasari Dharmabumi selaku Wakil Ketua Perempuan Tangguh Indonesia.

Project lead Walk for Autism Campaign dan Partner Development Team Lead Microsoft Indonesia Juliana Cen menyampaikan acara itu diselenggarakan untuk mendukung presensi para penyandang autisme dan disabilitas lain. Pihaknya percaya ketika diberikan kesempatan yang sama, penyandang autisme dan disabilitas akan mampu menyalurkan kelebihan masing-masing untuk mendorong semakin banyak inovasi. Suatu inovasi yang betul-betul menghargai perbedaan, merangkul keberagaman, dan menciptakan dampak positif bagi masyarakat luas secara inklusif. 

"Itu sebagaimana acara ini berhasil terwujud berkat kolaborasi begitu banyak pihak, mulai dari institusi pendidikan, perusahaan, komunitas, hingga individu. Kami mengajak semakin banyak elemen masyarakat untuk bersatu karya, membangun masyarakat yang semakin peduli dan inklusif. Ini bukan tentang kita, dia, atau mereka sebagai individu, tetapi tentang kita sebagai satu kesatuan masyarakat. When there is no door for us, let's build our own doors," ujarnya yang juga merupakan seorang asperger dan ibu dengan anak kembar autis, Jakarta, Jumat (12/5).

Senada, Direktur London School Centre for Autism Awareness dan London School Beyond Academy Chrisdina menerangkan terkait kesadaran autisme dapat terbentuk jika seluruh lini masyarakat bekerja sama. "Perlu kerja sama dari semua bidang untuk dapat memberikan peluang individu autistik untuk menjadi bagian dari lingkungan sosial. Bertambahnya tahun menunjukkan semakin banyak gerakan dengan tujuan yang sama yaitu membangun masyarakat inklusif."

Di sisi lain, Ketua Umum Yayasan Perempuan Tangguh Indonesia Myra Winarko menyoroti elalui Walk for Autism, Perempuan Tangguh Indonesia bersama berbagai lapisan masyarakat yang peduli mendukung upaya pemerintah menyediakan fasilitas bagi penyandang disabilitas agar dapat berpartisipasi penuh secara ekonomi, politik, hukum, sosial, dan budaya. Dengan demikian, mereka dapat menikmati semua hak yang telah dijamin oleh UU.

Selain itu, orangtua remaja autistik & Founder PSLC & Kids Yoga Jakarta, Tina Maladi, menekankan pentingnya penerimaan orangtua dalam memiliki anak berkebutuhan khusus. Orangtua merupakan fondasi utama. Sebelum berharap dan menyuarakan kesadaran autisme untuk masyarakat, perlu dipastikan orangtua menerima dan mendukung kehadiran buah hati.

"Sebagai orangtua dari anak autistik, saya mau share tips buat orangtua yang anaknya baru terdiagnosa autism spectrum disorder. Biasanya ada rasa marah, sedih, denial. Itu boleh-boleh saja karena kita kan manusia biasa. Yang penting jangan terlalu lama karena kita akan kehilangan waktu untuk early intervention. Timbulkan rasa ingin tahu terhadap perilaku dan kondisi anak sehingga kita belajar mengerti tentang kondisi autism spectrum disorder," tutur Tina.

"Hari ini adalah hari kelulusan saya dari ASUS." Demikian Juliana Cen, Country Product Group Leader, ASUS Indonesia, memulai ceritanya kepada teman dan koleganya melalui surat elektronik, 31 Januari 2017 lalu.

Kalimat berikutnya cukup mengejutkan karena bukan tipikal surat perpisahan yang biasa saya baca, seperti bisa Anda lihat di bawah. Tak ada kalimat basa-basi yang ditulis demi sekadar memenuhi norma sopan-santun kepada perusahaan yang akan ditinggalkan. Dia mengajak pembaca suratnya memasuki lorong waktu dan mundur 12 tahun ke belakang untuk melihat kisah inspiratif.

Sebagian teman sebenarnya sudah mendapat "kode" ihwal kepergian Juliana dari ASUS, beberapa pekan sebelum surat perpisahan itu. Sebagian lagi baru mengetahui belakangan, dan sempat terheran-heran melihat Juliana berurai air mata dalam satu acara terakhirnya bersama ASUS. Dia membuat prosesnya tampak sangat personal dan manusiawi, sekaligus juga detail. Lihat saja foto terakhir yang dia posting di Instagram berikut ini. 

Delapan bulan sesudah dia mengirim surat itu, kami bertemu lagi di suatu siang yang cerah di Kelapa Gading. Hari itu, kami janjian untuk sesi pemotretan. Karena kesibukan, obrolan serius terpaksa berlangsung melalui surat elektronik juga. Berikut petikannya:

Bisa diceritakan sedikit, Juliana tumbuh dalam lingkungan keluarga seperti apa sehingga membentuk Juliana yang kita kenal sekarang?

Tumbuh dalam keluarga entrepreneur, jadi dari kecil sudah sering bantu mama jualan (dagang) alias jaga toko. So, sedikit banyak mengerti konsep bisnis kecil-kecilan, dan memiliki keinginan untuk memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan.


Surat itu...

Hari ini adalah hari kelulusan saya dari ASUS. Saya masih ingat pertama kali saya dipanggil interview oleh ASUS. Sempat shock juga mengetahui kantor ASUS pada saat itu di dalam rumah dan hanya ada sedikit orang saja dalam tim. Saya memulai karir di ASUS sebagai Marketing Specialist. Fokus kerja saya pada saat itu adalah Webmaster, bertugas untuk menerjemahkan produk-produk ASUS di website dan juga mengatur situs ASUS termasuk http://id.asus.com dan juga website ASUS Advantage.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai melakukan pekerjaan PR dan juga mengadakan acara-acara. Acara pertama yang saya lakukan adalah Dealers Gathering di awal bulan September di tahun 2005. Pada saat itu bertempat di Novotel Mangga Dua, yang baru saja dibangun. Saya masih ingat, dengan keterbatasan budget dan juga pengalaman, saya bertugas merangkap sebagai MC, penjaga live demo dan juga yang organize acara. Pengalaman saya di marketing membawa saya ke posisi Marketing Manager di tahun 2007. Lalu pada akhir 2008, saya rotasi ke tim bisnis, sebagai Product Manager untuk handle Notebook ASUS.

Di pertengahan tahun 2009, terjadi perubahan organisasi besar-besaran di ASUS di seluruh dunia. Lalu saya pun dimasukkan dalam tim SYSTEM sebagai posisi BDM. Pada saat itu tim masih sangat kecil, hanya terdiri dari 3 orang yang focus di SYSTEM Business Group. Seiring berjalannya waktu, dengan bantuan dan support dari ASUS Taiwan, kami melakukan banyak sekali perkembangan.

Salah satu yang berkesan buat saya…awalnya kita hanya ada sekitar 20an Partner, dimana semua fokus di Jakarta. Dari 20an partner itu hanya ada 7 yang memang loyal sekali dengan ASUS. Pada hari Sabtu pun saya kunjungan ke Mangga Dua & Harco untuk menawarkan para dealer menjadi partner ASUS. Saya ingat bagaimana penolakan-penolakan dari dealer pada saat saya tawarkan mereka berjualan ASUS……. ><

Saya juga masih ingat pengalaman saya bersama bos Taiwan ASUS, naik LION AIR keliling kota kota di Indonesia, selalu berangkat pesawat paling pagi dan selalu meeting 6-7 dealer dalam 1 hari. Sambil menenteng-nenteng 7-8 Notebook dalam koper, berjalan seperti salesman keliling, mengetuk pintu satu per satu dealer, menawarkan Notebook ASUS. Dan bagaimana pengalaman ditolak oleh dealer bahkan diremehkan karena ASUS masih sangat kecil pada saat itu.

Kita tidak punya dana sama sekali untuk support dealer, hanya ada product guide saja waktu itu :P. Beberapa dealer mendaftar sebagai partner hanya karena kasihan dengan saya, katanya via BBM. Namun seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan kita luluhkan juga para dealer tersebut dan mereka mau menjadi partner ASUS. Bahkan setelah beberapa tahun, banyak dealer-dealer yang mengajukan diri menjadi AGP/AP kita. Tentu saja banyak sekali hal hal yang kita lakukan juga untuk meraih kepercayaan para dealer. Dan itu semua terjadi karena seiring berjalannya waktu, pada saat keliling keliling dealer, sekalian interview teman-teman di seluruh Indonesia. Dengan bantuan teman-teman di tim ASUS, akhirnya kita bisa juga berhasil mencapati nomor 1 sejak 2012 untuk bisnis notebook.

Saya sangat senang sekali bekerja dengan sepenuh hati seperti itu. Saya punya pengalaman bekerja sampai jam 6 pagi, lalu jam 9 pagi saya sudah di kantor kembali. Saya juga punya pengalaman bekerja sampai jam 2 pagi, dan pada saat pulang, saya kena razia polisi karena dikira prostitusi. Saya sangat bersyukur juga pada saat malam kantor kita dimasukin pencuri, saya sudah pulang dari kantor jam 10 malam sehingga saya tidak bertemu dengan para pencuri tersebut.

Namun itu juga menjadi titik dimana saya tidak diizinkan lagi untuk pulang begitu malam, hanya untuk mencegah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Setidaknya jam 8-9 lah pulang kantornya 😛 Di masa-masa perjuangan tersebut, hampir setiap hari Sabtu, saya juga menghabiskan waktu di café kelapa gading sport club, hanya untuk cari akses internet dan nuansa kerja yang nyaman (karena pemandangan kolam renang), untuk membaca email, belajar produk, memikirkan startegi.

Sesekali juga ke IT mall untuk mengecek pasar. Sepertinya hidup saya pada saat itu benar-benar ASUS, sisanya adalah tidur dan istirahat di rumah. JIka saya flash back, saya tidak menyesal melakukan semua hal itu. Saya sangat menikmati masa-masa perjuangan seperti itu. Apalagi melihat ada hasil sedikit demi sedikit.

Dari market share 1.5% di tahun 2008, menjadi 5%, lalu 10%, 15% lalu pada tahun 2012 kita berhasil menjadi nomor 1 di Indonesia, walaupun market share masih “mepet” dengan ACER. Setelah tahun 2012, dengan semakin banyaknya teman-temang bergabung di tim, kita juga menjadi nomor satu yang sangat kuat, sampai pencapaian terakhir di tahun 2016Q3 yaitu 43.8% untuk overall Notebook, 50% untuk consumer notebook, dan 68% untuk Gaming Notebook.

Begitu juga dengan bisnis smartphone. Saya masih ingat bagaimana kita waktu itu mencari informasi pasar smartphone di Indonesia dan meyakinkan manajemen ASUS di Taiwan jika Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar. Bagaimana kita berdiskusi mengenai perencanaan startegi smartphone di Indonesia pada saat kunjungan CEO ASUS dan kita ada workshop 2 hari di novotel, lalu di hari Minggu-nya, saya diminta untuk beli tiket langsung di bandara dan ikut para rombongan ke Taiwan. Pada saat di Taiwan, kita bertemu dengan tim BU, R&D, marketing dan sebagainya untuk berdiskusi mengenai smartphone ASUS. Beberapa hari di Taiwan, pada saat pulang ke Indonesia, saya sudah bisa menceritakan ke teman-teman, bahwa ASUS akan mengeluarkan “Zenfone”. Dan bagaimana kita melakukan peluncuran Zenfone di hotel Pullman dengan 1.000 peserta… itu adalah pengalaman yang luar biasa. Apalagi penutupan buat saya adalah Zenvolution Bali dengan Incredible Race. It’s really amazing journey for me with ASUS!!


Apa nilai-nilai yang Anda pegang ketika bekerja atau berkarir?

Yang pertama: integritas. Dan yang kedua: kemauan belajar & berkembang 🙂 

Saya cukup terkejut membaca e-mail perpisahan saat Anda keluar dari ASUS Indonesia. Kisahnya sangat personal dan menginspirasi. Hal-hal apa saja yang meninggalkan kesan dan pelajaran penting selama berkarir di sana?

Saya banyak belajar dan berkembang di ASUS. Saya sangat berterima kasih karena memiliki kesempatan untuk belajar banyak, sehingga saya bisa berkembang dari yang cuma sekadar marketing/webmaster, menjadi posisi saya terakhir di ASUS (mengembangkan bisnis notebook dan smartphone di Indonesia). Selain itu, konsep integritas yang tinggi, bagaimana juga penerapan prinsip ekonomi di perusahaan (get more with less, dan selalu mencari solusi untuk mencapai tujuan. Hal ini sangat membentuk diri saya selama berkarir di sana 🙂 

Ceritakan kepada kami tentang pekerjaan baru Anda saat ini? Apa yang membuat Anda antusias?
Pekerjaan saya ini sebagai CMO lead di salah satu perusahaan MNC. Saya sangat antusias karena bisa menjadi bagian dari perusahaan dengan misi yg sangat mulia; empower every person and every organization on the planet to achieve more.

Siapa sosok atau tokoh yang menginspirasi Anda dalam mengejar karir?
Saya senang dengan sosok wanita karir yang berhasil di dunia dan juga memiliki karakter/itikad yang baik seperti Sheryl Sandberg, Arianna Huffington

Isu kesetaraan gender di industri teknologi cukup menyolok. Dari kesetaraan gaji, kesetaraan kesempatan dan lain-lain. Saya tertarik mengamati Sheryl Sandberg dan pandangan-pandangannya terkait perempuan di dunia kerja. Bagaimana Juliana melihat diri sendiri dan sesama perempuan di dunia teknologi?

Saya berharap akan lebih banyak lagi wanita-wanita yang berhasil berkarir di dunia teknologi dan akan semakin banyak perusahaan juga yang memberikan kesempatan yang sama kepada wanita 🙂 

Banyak yang menyebut generasi millenials adalah "kutu loncat" karena sering pindah tempat kerja. Apa pandangan Juliana terkait fenomena ini?
Saya harusnya masuk kategori Milenial niy, kenyataannya saya bisa kerja di satu tempat sampai hampir 12 tahun. Jadi, kuncinya adalah, selama perusahaan masih bisa terus-menerus mengakomodasi kebutuhan si milenial untuk terus belajar, berkembang dan melakukan hal-hal yang di-passionate, then it should be fine for millennial 🙂 

Bagaimana pengalaman Juliana bekerja dengan anak-anak muda ini? dan kalau diminta masukan, apa yang ingin Juliana sampaikan kepada mereka?
Dari pengalaman saya pribadi, yang selalu menjadi keinginan semua orang adalah bisa bebas berkreativitas sendiri, bisa menentukan A-Z sendiri. But, in real world, it is not that beautiful, and it is not about me, but WE. So we gotta learn how to collaborate and also learn from experiences one 🙂

MAJALAH ICT – Jakarta. Perkembangan bisnis teknologi informasi dan komunikasi Indonesia saat ini cukup agresif dan inovatif. Apalagi untuk bisnis ponsel pintar, tablet maupun  notebook yang sudah menjadi kebutuhan utama yang dibutuhkan pengguna untuk berkomunikasi dan melakukan berbagai aktivitas digital, khususnya untuk kota-kota besar.

Salah satu vendor penyedia ponsel cerdas, tablet serta notebook tersebut adalah ASUS. Dan bicara mengenai ASUS, tentu tidak lengkap jika tidak menemui Juliana Cen, Country Group Product Leader ASUS. Bersama timnya, Notebook ASUS yang  empat tahun lalu tidak ada apa-apanya, berkat kerja keras tim ASUS semua, akhirnya ASUS menjadi brand nomor satu di Indonesia sejak tahun 2013. “Posisi kita semakin kuat saja,” katanya.

Mengenai perkembangan bisnis ASUS, Juliana mengungkapkan bahwa menurut laporan terbaru lembaga riset IDC, sampai kuartal kedua 2014, ASUS telah berhasil memasarkan 284 ribu portable PC (notebook consumer dan commercial) di Indonesia. Laporan itu juga menegaskan bahwa posisi ASUS sebagai produsen notebook terbesar di negeri ini semakin kuat, dengan pangsa pasar 38,41%, dua kali lipat dari brand yang berada di posisi kedua.

"Ini patut disyukuri. Di saat pasar mengalami slow down dan hampir seluruh produsen lain mengalami penurunan, ASUS justru berhasil menaikkan total penjualan, meningkatkan market share dan semakin jauh meninggalkan kompetitornya. Ini juga merupakan bukti bahwa produk-produk ASUS kini sudah semakin dicintai pengguna,” ujarnya gembira.

Untuk pengguna ponsel, ASUS menyediakan lini produk smartphone yang sangat inovatif dan fenomenal yakni seri ASUS ZenFone yang tersedia mulai dari ukuran layar 4, 5, dan 6 inci.  

Disebut inovatif karena smartphone ini dilengkapi bermacam fitur yang akan semakin memudahkan pengguna dalam melakukan berbagai aktivtas, sehingga dengan ZenFone, pengguna tidak sudah seperti membawa asisten pribadi dalam genggaman.

"Adapun dikatakan fenomenal karena produk berfitur lengkap dan kinerja bagus tersebut dipasarkan di harga yang sangat terjangkau di kelasnya,” jelas perempuan kelahiran 15 November 1982 ini.

Ditambahkannya, untuk memenuhi kebutuhan tablet di kalangan pengguna, ASUS juga memiliki berbagai jenis produk media tablet. Dengan kemampuan dan fitur yang sangat banyak, tablet-tablet ASUS dipasarkan di harga yang sangat bersaing dibanding kompetitor. Disebutkanlah tablet terbaru ASUS, yakni Fonepad FE170CG.

Dari sisi desain, meski berlayar 7 inci, namun tablet ini dibuat sangat ringkas sehingga sangat nyaman digenggam dengan satu tangan. Dari sisi kemampuan, gadget sudah menggunakan prosesor Intel yang sangat mendukung multi tasking serta jaringan konektivitas 3G HSPA+ yang menawarkan kecepatan download hingga 42Mbps. Produk juga mendukung komunikasi voice serta dua slot SIM card GSM.

Di sisi lain, lanjut Jualiana, seluruh pengguna, mulai dari pelajar, mahasiswa, sampai karyawan dan kalangan profesional pasti butuh untuk menyelesaikan tugas-tugas, pekerjaan, ataupun melakukan hobinya. Dan alat yang paling tepat untuk melakukannya adalah notebook.

"Bagi pengguna seperti ini, kita menyediakan lini produk yang sangat luas dan mencakup seluruh kalangan. Mulai dari pelajar atau mahasiswa dengan notebook mainstream, kalangan pekerja dengan notebook Pro series, hingga para hobbyist yang gemar memainkan game ataupun aplikasi dan konten multimedia. Untuk seluruh pengguna tersebut, ASUS punya model produk yang tepat. Mulai dari G series, N series, hingga ultrabook Zenbook series,” terang lulusan Information System dari Universitas Bina Nusantara dengan predikat Cum Laude ini.

Tantangan Jaringan dan Kepercayaan 

Lalu apa yang akan digarap ASUS ke depan? Diungkapkan Juliana, saat ini Asus mulai serius menggarap PC untuk segmen korporat. Berbeda dengan bisnis consumer, bisnis korporat adalah bisnis yang mengutamakan faktor-faktor penting seperti kualitas, layanan purna jual, jaringan dan kepercayaan. ASUS sudah memiliki dua di antaranya.

Kata perempuan yang hobi berenang dan membaca buku ini, dari sisi kualitas, tidak ada yang meragukan kualitas produk-produk yang disediakan ASUS. Dari sisi layanan purna jual, pihak ASUS juga terus menerus memperlebar jaringan service center di seluruh Indonesia. Dan khusus untuk segmen komersial, ASUS juga menawarkan layanan yang lebih lengkap dibandingkan pada end user biasa. Mulai dari extended warranty  sampai on site service

"Yang menjadi tantangan terbesar di segmen ini adalah jaringan dan kepercayaan. Meski demikian, kami akan terus melakukan pendekatan ke berbagai industri di segmen korporat seperti pendidikan, UKM, instansi pemerintahan dan lain-lain. Dengan kualitas yang ASUS tawarkan, layanan purna jual yang terus ditingkatkan dan komitmen untuk menghadirkan yang terbaik, kami yakin bahwa kami ASUS akan meraih kepercayaan tersebut,” tandasnya. 

Terkait dengan milestone di segmen korporat dan edukasi, tambah Juliana, baru-baru ini ASUS memenangkan proyek di Universitas Bina Nusantara untuk program e-learning di sana.

Selain mengurusi hal-hal berbau teknologi informasi termutakhir, ternyata Juliana diam-diam juga pandai memasak. Membuat kue, khususnya pizza, merupakan keahliannya yang lain. 

Dan dalam menjalani kehidupan ini, Juliana memiliki motto “Dreams reveal to your destiny”. Moto inilah yang membawanya hingga ke posisi seperti sekarang, meski memulai kerja di ASUS sejak 2005 dengan posisi sebagai webmaster. "Pada saat kita punya impian, kita harus berusaha menggapainya dengan kerja keras,” katanya menutup perbincangan.

Bicara tentang totalitas dalam berkarir di sebuah perusahaan, dari sekian banyak kisah inspiratif yang ada, penulis memiliki kisah menarik dari salah satu mantan karyawan ASUS Indonesia, yakni Juliana Cen.

Juliana Cen adalah mantan Country Product Group Leader ASUS Indonesia. Penulis pertama kali mengetahui rencana pengunduran dirinya dari ASUS Indonesia pada acara peluncuran notebook Republic Of Gamers (ROG) STRIX GL553 dan GL702 tempo hari, tetapi ia tidak bisa banyak berkata karena larut dalam emosi.

Dirinya baru sanggup angkat bicara mengenai pengunduran dirinya di acara peluncuran notebook ASUS X550IU. Juliana mengucapkan salam perpisahan dari ASUS Indonesia via e-mail ke redaksi kami pada Jumat (31/1/2017), ia telah mengumumkan "kelulusan" dari ASUS Indonesia sekaligus menceritakan awal karirnya di ASUS, mulai dari job interview sampai meraih pencapaian terbaiknya.

Juliana sudah bekerja di ASUS sejak tahun 2005, hampir 12 tahun yang lalu pada tahun 2017 ini. Ia mengungkapkan perasaannya yang seperti seorang anak yang akan melanjutkan sekolah ke luar kota. Ada rasa sedih karena akan berpisah dengan keluarga, tetapi juga ada perasaan gembira, karena akan menjalani petualangandan juga belajar hal-hal baru.

Terkejut Ketika Job Interview

Juliana menjelaskan kalau dirinya masih ingat kali pertama dipanggil job interview oleh ASUS Indonesia. Sempat terkejut ketika mengetahui kantor ASUS pada saat itu berada di dalam rumah dengan sedikit karyawan di dalam tim. Juliana memulai karir di ASUS pada posisi Marketing Specialist dengan fokus kerjanya sebagai Webmaster yang bertugas untuk menerjemahkan produk-produk ASUS di website serta mengatur situs ASUS termasuk http://id.asus.com dan juga website ASUS Advantage.

Seiring berjalannya waktu, Juliana mulai mengerjakan tugas sebagai Public Relation dan mengadakan banyak acara. Acara pertama yang dikerjakan adalah dealers gathering pada awal bulan September di tahun 2005. Pada saat itu bertempat pada hotel di Mangga Dua, Jakarta. Dengan keterbatasan dana dan pengalaman, ia bertugas merangkap sebagai pembawa acara, penjaga live demo dan yang mengatur acara. Pengalaman sebagai marketing membawa Juliana ke posisi Marketing Manager di tahun 2007.

Pada akhir 2008, Juliana dipindahkan ke tim bisnis sebagai Product Manager untuk menangani notebook ASUS. Pada pertengahan tahun 2009, terjadi perubahan besar-besaran pada struktur organisasi ASUS di seluruh dunia. Kemudian Juliana dimasukkan dalam tim SYSTEM sebagai Business Development Manager. Tim saat itu masih sangat kecil, hanya terdiri dari tiga orang.

Peroleh Banyak Dukungan

Atas bantuan dan dukungan dari ASUS Taiwan, akhirnya ASUS Indonesia mendapat banyak perkembangan. Salah satu yang berkesan, awalnya ASUS Indonesia hanya punya sekitar 20 partner yang semua berada di Jakarta dan hanya ada tujuh yang loyal. Pada akhir pekan Juliana berkunjung ke Mangga Dua dan Harco untuk menawarkan dealer untuk menjadi partner ASUS, sayangnya dikarenakan brand ASUS masih sangat kecil sehingga banyak ditolak dan diremehkan oleh dealer.

Juliana menuturkan pengalamannya bersama bos ASUS Taiwan untuk berkeliling kota besar di Indonesia. Mereka selalu berangkat naik pesawat paling pagi dan meeting dengan enam sampai tujuh dealer dalam sehari, menenteng tujuh sampai delapan notebook dalam koper seperti salesman, dan mengetuk satu per satu pintu dealer untuk menawarkan notebook ASUS.

Dikasihani Dealer

Waktu itu hanya ada product guide saja untuk dealer, karena keterbatasan dana. Ada dealer yang mau mendaftar sebagai partner ASUS karena kasihan dengan saya, hal itu diungkapkan via BBM. Namun seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan kami berhasil meluluhkan para dealer untuk menjadi partner ASUS. Bahkan setelah beberapa tahun, banyak dealer yang mengajukan diri untuk menjadi partner ASUS.

Banyak hal yang telah dilakukan untuk meraih kepercayaan dealer. Dengan bantuan teman-teman, akhirnya ASUS berhasil menjadi brand papan atas pada tahun 2012 hingga sekarang untuk bisnis notebook di Indonesia.

Terjaring Razia Polisi

Juliana sangat senang bekerja dengan sepenuh hati. Ia punya pengalaman bekerja di kantor ASUS sampai jam enam pagi, lalu jam sembilan pagi sudah kembali ke kantor. Wanita berkacamata ini juga punya pengalaman bekerja sampai jam dua pagi, dan ketika perjalanan pulang, ia sempat terjaring razia polisi karena dianggap sebagai pekerja prostitusi.

Ia pernah sangat bersyukur pada saat malam kantornya dimasuki pencuri, namun beruntung Juliana sudah pulang dari kantor dari jam 10 malam sehingga tidak bertemu dengan para pencuri. Namun peristiwa itu justru menjadi titik balik yang mana Juliana tidak diizinkan lagi untuk pulang begitu malam dari kantor untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Paling lambat antara jam delapan hingga sembilan malam sudah harus pulang kantor.

Di masa-masa perjuangan itu, hampir setiap hari Sabtu, Juliana menghabiskan waktu pada cafe di Kelapa Gading dalam rangka cari akses internet dan nuansa kerja yang nyaman untuk membaca e-mail, belajar produk, dan memikirkan startegi. Sesekali juga ke IT mall untuk memeriksa pasar. Sepertinya hidup Juliana pada saat itu benar-benar hanya untuk ASUS, sisanya adalah tidur dan istirahat di rumah.

Tidak Ada Sesal

Jika melihat kembali ke belakang, Juliana tidak menyesal melakukan semua hal itu. Ia sangat menikmati masa-masa perjuangannya. Apalagi setelah melihat ada hasil sedikit demi sedikit. Dari market share 1,5 persen di tahun 2008, kemudian naik jadi 5 persen, lalu 10 persen, 15 persen dan pada tahun 2012 ASUS berhasil menempati posisi papan atas di Indonesia, walaupun market share masih "mepet" dengan brand pesaing.

Setelah tahun 2012, dengan semakin banyaknya teman-teman yang bergabung ke dalam tim, ASUS Indonesia menjadi sangat kuat. Pencapaian terakhir pada kuartal ketiga tahun 2016, yaitu 43,8 persen untuk keseluruhan notebook, 50 persen untuk consumer notebook, dan 68 persen untuk gaming notebook.

Untuk bisnis smartphone, Juliana masih ingat ketika itu ia mencari informasi tentang pasar smartphone di Indonesia dan meyakinkan manajemen ASUS di Taiwan bahwa Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar. Berdiskusi mengenai perencanaan strategi smartphone di Indonesia pada saat kunjungan CEO ASUS dan diminta untuk ikut rombongan ke Taiwan.

Pada saat di Taiwan, Juliana bertemu dengan tim Business Unit, Research and Development, Marketing dan lainnya untuk berdiskusi tentang smartphone ASUS. Beberapa hari di Taiwan, saat pulang ke Indonesia, ia sudah bisa mengabarkan ke tim bahwa ASUS akan mengeluarkan "ZenFone".

Persembahan Terbaik

Bagaimana Juliana dan timnya menyelenggarakan acara peluncuran Zenfone di hotel Pullman dengan 1000 peserta adalah pengalaman yang luar biasa. Apalagi acara Zenvolution Bali (event peluncuran besar-besaran smartphone ASUS pada tahun 2016) dengan Incredible Race. It's really amazing journey for me with ASUS!

Sebagai akhir, Juliana mengungkap bahwa dirinya masih akan tetap berkarya di industri tekno tanah air pada perusahaan besar lain, yakni ke Microsoft dengan posisi baru sebagai Central Marketing Organization (CMO) Lead. Divisi tempat ia berkarir di Microsoft ini masuk ke dalam departemen Marketing and Operation yang katanya merupakan jantung dari perusahaan Microsoft.

JAKARTA, KOMPAS.com - Petinggi Asus Indonesia Juliana Cen, hari ini, Selasa (31/1/2017), resmi meninggalkan jabatannya sebagai Country Product Group Leader.

"Hari ini adalah hari kelulusan saya dari Asus. Saya udah bekerja di Asus sejak 2005, hampir 12 tahun yang lalu," ujarnya dalam pesan yang dikirimkan pada KompasTekno.

Selama belasan tahun tersebut, menurut Juliana, dia mulai merintis karir dari seorang webmaster, public relation, product manager, dan lainnya hingga sampai pada jabatan terakhirnya. Wanita lulusan Universitas Bina Nusantara ini turut membawa Asus menjadi pemimpin pasar laptop selama beberapa tahun dan turut membidani kedatangan smartphone Asus Zenfone ke Indonesia.

"Perasaan saya seperti seorang anak yang akan melanjutkan sekolah ke luar kota. Ada perasaan sedih karena akan berpisah dengan keluarga, dan juga ada perasaan gembira, karena saya akan menjalani petualangan baru, dan juga belajar hal-hal baru," imbuhnya.

Berikutnya, Juliana akan pindah ke Microsoft Indonesia dengan jabatan Chief Marketing Officer (CMO) Microsoft Indonesia. Di posisi baru ini, dia akan fokus mengurus seluruh hal terkait pemasaran produk milik Microsoft di Tanah Air. "Saya mulai aktif (di Microsoft) besok (Rabu (1/2/2017). Nanti akan menangani semua marketing Microsoft," pungkasnya.

Mengawali karier sebagai desainer web di Asus, posisi Juliana Cen terus menanjak. “Saya tidak suka kerjaan itu-itu saja. Jika yang satu sudah beres, saya ingin yang ini, yang itu. Yah, sekalian belajar banyak,” ujar Jul, sapaan akrab kelahiran Pematang Siantar 28 tahun silam ini. Karena tidak bisa diam itu, ia kerap menangani beberapa divisi seperti pemasaran, public relations dan event. Kemauan belajar banyak melahirkan peluang buat kariernya. Ia kemudian dipercaya sebagai Staf Pemasaran Senior yang mengantarkannya menempati pos Manajer Pemasaran. Ia kemudian dipercaya menjadi Manajer Produk, sebelum akhirnya menjadi Manajer Pengembangan Bisnis, yang membawahkan empat divisi, yakni penjulan, pemasaran, administrasi dan produk.

Jul menangani beberapa produk Asus, antara lain notebook, ee pc, dan ee pad. Berbagai prestasi ditoreh putri pasangan Lie Kim Hoa dan The Hwa Guan (almarhum) ini. Bersama tim, ia mampu membawa penjualan Asus naik 20 kali lipat pada 2009. Pangsa pasar Asus di Indonesia juga meningkat menjadi dua digit. Bahkan, tim Asus berambisi menjadi top 3 tahun ini dan beberapa tahun ke depan. “Ini semua bukan semata karena kerja keras saya, tapi seluruh divisi. Kerja saya tak ada artinya jika tak dibantu teman-teman,” kata peraih Gold Marketing Award AsusTek Computer Inc, Taiwan, tahun 2008 ini.

Bagi Sarjana Sistem Informasi dari Universitas Bina Nusantara ini, Asus sudah menjadi bagian hidup dan kariernya. Ia pun enggan menargetkan menduduki posisi yang lebih tinggi di perusahaan tersebut. “Lima tahun lagi, saya harus punya bisnis sendiri. Harus. Itu misi hidup saya,” ujar Top Fun Fearless Female 2009 versi Majalah Cosmopolitan ini.

“Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work is to love what you do. I you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it.”
JULIANA CEN
LET’S KEEP IN TOUCH!
Sign Up for our newsletter
Subscription Form
Copyright © 2024 JULIANA CEN